Selasa, 14 Agustus 2018

Mereka yang Bersyukur ~ Essay Terbaik Maba PKh 2018 ke-3

Mereka yang Bersyukur 
Oleh : Hani Delismietin (PKh 2018)

Pernahkah terfikir oleh kalian bahwa kita sebagai manusia yang diciptakan oleh tuhan dengan sebaik-baiknya, masih saja merasa kekurangan lalu mengeluh? Manusia pasti memiliki sifat tidak pernah puas dan tidak mudah merasa cukup, dan itu sangatlah manusiawi. Disekitar kita pun ada beberapa orang yang diberi pengecualian oleh tuhan, mereka diciptakan dengan baik tetapi diberi keistimewaan oleh tuhan. Manusia berkebutuhan khusus, diciptakan oleh tuhan untuk membuat kita manusia yang biasa saja untuk mengurangi sifat tidak pernah puas dan selalu merasa bersyukur. 

Mengapa kita tidak memiliki keistimewaan seperti mereka yang berkebutuhan khusus? Karena tuhan tahu jika kita terpilih menjadi mereka yang istimewa, kita tidak akan mampu menerima diri kita sendiri. Maka dijadikanlah kita manusia manusia yang sudah diciptakan sebaik - baiknya dan tanpa keistimewaan oleh tuhan dan berada disekitar mereka yang istimewa agar selalu ingat kepadanya dan selalu bersyukur. 

Mereka yang berkebutuhan khusus selalu diberikan kelebihan oleh tuhan, dan kebanyakan dari mereka pun jarang sekali mengeluh dengan keadaan mereka. Mereka mudah sekali dibuat bahagia hanya dengan hal-hal kecil seperti sapaan sayang, pujian setelah mengerjakan pekerjaan rumah, atau cemilan yang kita berikan kepada mereka. 

Hanya dengan senyuman saja, kita sudah bisa membuat penyandang tuna rungu bahagia. Dengan senyuman kita sudah membantu mereka mengurangi rasa curiga dan merasa tidak dianggap. Lalu bagaimana dengan manusia biasa? Apa yang dapat membuat manusia biasa merasa bahagia? Uang? Rumah? Mobil? Terlalu banyak syarat untuk manusia biasa merasa bahagia.

Pernahkah mendengar nyanyian mereka penyandang tuna netra? Tuhan menganugerahkan tiap - tiap tuna netra suara yang bagus, karena tuhan sudah menutup mata mereka. Lalu apakah dengan suara mereka yang indah, mereka menjadi manusia yang sombong dan menuntut ketenaran? Jarang sekali tuna netra yang dianggap dan dibantu untuk memasarkan suara indahnya. Lalu apa yang terjadi jika yang bersuara bagus adalah manusia biasa? 

Belakangan ini banyak sekali kasus mengenai anak yang berani melawan orang tuanya karena apa yang dia inginkan tidak diberikan. Padahal dengan mereka memiliki orang tua yang mau mengakui mereka sebagai seorang anak saja adalah anugerah terindah yang mereka sudah dapatkan. Karena percaya atau tidak, tidak banyak anak berkebutuhan khusus yang diakui oleh orang tuanya. Tidak sedikit dari mereka yang dititipkan begitu saja kepada yayasan atau sekolah khusus karena orang tuanya tidak tau atau bahkan tidak mau mengurus mereka. Meskipun tidak sedikit pula orang tua yang masih mau bertanggung jawab dan masih mau mengurus.

Dengan hadirnya mereka yang istimewa di antara kita yang biasa saja, seharusnya kita menjadi merasa lebih bersyukur. Karena kesulitan yang kita alami, tidak sebanding dengan kesulitan yang mereka tempuh. Sejatinya, seburuk apapun keadaan kita sekarang, karena kita adalah manusia yang diberikan akal sehat seharusnya kita mampu untuk berusaha menjadi yang lebih baik, bukan mengeluhkan apa-apa yang belum ada di kehidupan kita. Dan seharusnya perasaan selalu merasa kekurangan bisa kita hilangkan, karena dengan kita dilahirkan kedunia ini, dijadikan sebaik-baiknya oleh tuhan, diakui dan mendapatkan kasih sayang dari orang tua, memiliki mata yang dapat melihat, suara yang dapat terdengar, tangan dan kaki yang masih bisa membantu sesame seharusnya kita tidak merasa kurang sama sekali. 

Jika mereka yang istimewa dan berkebutuhan khusus mampu menerima diri mereka dan selalu merasa cukup, mengapa kita yang memiliki segala yang mereka tidak punya masih selalu merasa kurang?  


Setara dari Perspektif Mereka ~ Essay Terbaik Maba PKh ke-2

Setara dari Perspektif Mereka 
Oleh : Ichlas Nurpaidah (PKh 2018)

Banyak orang memperjuangkan kesetaraan kaumnya, banyak kaum yang memperjuangkan haknya, lantas mereka mendapatkannya. Mereka mendapat pemenuhan hak yang mereka perjuangkan pada akhirnya. Tapi tulisan ini dibawa dari mereka, teman-teman difabel (different ability), yang jauh dari orang-orang yang mengamini kesetaraan. Kesetaraan yang mereka harapkan bukanlah persamaan, lantas apa yang mereka inginkan dari diksi setara, sedang kemampuan ‘kita’ dan ‘mereka’ jelas berbeda? 

Setiap dari kita pastilah pernah berada pada tempat yang sama dengan mereka para penyandang difabel. Jika satu di antara pembaca berkata tidak, maka benarkah? Mereka yang kebetulan tidak ada pada suatu waktu di keseharian kita, atau jangan-jangan kita yang tidak menganngap keberadaan mereka? Kebanyakan dari kita berspekulasi bahwa para difabel selalu memerlukan pertolongan, bantuan kita, dan perlu dikasihani. Dampaknya nanti, kita cenderung menghindari para difabel dengan kekhawatiran nantinya mendapat celaan, atau ikut dibuat kesusahan. Hal ini jelas keliru, karena sebenarnya mereka sama seperti kita. 

Contoh sederhananya saja seorang tunanetra mampu berjalan seperti kita, mungkin tidak dengan mata, tapi dengan kemampuan mengenali ruang dengan bantuan tongkat mereka. Seorang tunanetra mampu membaca, mungkin bukan dengan mata, tapi dengan jari - jari mereka. Seorang tunawicara atau tunarungu juga mampu berbahasa, mungkin bukan melalui suara tapi melalui gerak tubuh mereka. Atau seorang tunadaksa misalnya, kita pikir mereka tidak bisa berolahraga? mereka berolahraga seperti kita, tapi mereka memiliki kebutuhan khusus dibandingkan kita, mereka berolahraga beserta alat bantu geraknya, misalnya saja sebuah roda. Adakah ketidakmampuan (disability; nantinya diserap ke dalam bahasa indonesia menjadi disabilitas) di antara perbandingan tadi? Ternyata tidak, kita sama - sama melakukannya, namun dengan cara yang berbeda. Sehingga mereda dituntut untuk memiliki kemampuan yang berbeda pula (different ability [difabel]). Bedanya, kita bisa dengan mudah melakukan berbagai aktifitas, tapi mereka membutuhkan kemampuan khusus, fasilitas dan cara khusus untuk melakukan aktivitasnya. Cara yang berbeda inilah sumber dari hilangnya hak dan kesetaraan antara ‘kita’ dan ‘mereka’. Sumber dari perbedaan dan diskriminasi. 

Kesetaraan seolah enggan diperjuangkan untuk mereka para difabel, karena mereka minoritas, dianggap tidak mandiri, senantiasa membutuhkan bantuan orang lain, dan memerlukan usaha ekstra untuk menjadikan kemampuan kita dengan mereka sama. Bukankah sudah menjadi keharusan bagi kita, yang diberi kemudahan dalam menjalankan kehidupan, untuk membantu dan memfasilitasi mereka yang harus berusaha lebih untuk menjalani kehidupannya? Padahal hanya itu definisi setara bagi mereka, dengan hanya diberikan pelayanan dan fasilitas terbaik dari lingkungannya. Seperti yang dikatakan Febrian Dwi Putra mahasiswa PLB 2017, Universitas Negeri Jakarta, dalam kesempatan wawancara.

“Kaka pengen anak-anak difabel disamakan, dalam artian pelayanan untuk kami 
yang disabilitas ada, jadi setara bagi Kaka pribadi, berikan pelayanan, dan fasilitas 
yang terbaik buat anak-anak disabilitas, karena itu yang kami perlukan.” 

Bukankah di Indoneisa saat ini situasi terbalik, dimana kita yang bisa menjalani kehidupan dengan normal terus difasilitasi, pemenuhan dan perbaikan pelayanan publik terus diperbaiki untuk mencapai kemudahan yang lebih hingga memperoleh cara hidup yang lebih praktis lagi. Berkebalikan dengan fasilitas untuk mereka para difabel jangankan pengembangan fasilitas, hingga saat ini di Indonesia fasilitas untuk difabel bahkan belum bisa dikatakan layak. Misalnya saja di Kabupaten Trenggalek beberapa titik guiding block menabrak pohon dan tiang listrik.

“Di indonesia ini,  masih banyak orang normal lebih difasilitasi, padahal mereka 
tidak punya kekurangan apapun, sementara kami disabilitas, yang banyak sekali 
kekurangan, tetapi tidak diperhatikan oleh lingkungan sekitar, apalagi oleh orang 
orang yang masih awam kepada temen-temen disabilitas.” tambahnya.  

Lantas apa yang bisa kita kontribusikan untuk mereka? Tidak perlu menjadi bagian dari pemerintah dulu untuk ikut membenahi, tak perlu menjadi konsultan disabilitas untuk peduli, tak perlu menjadi mahasiswa pendidikan khusus untuk memfasilitasi, juga tak perlu menjadi bagian dari mereka dulu kan untuk mengerti? Fasilitasilah mereka dengan memahami, bahwa perbedaan ‘kita’ dan ‘mereka’ bukanlah sebuah kelemahan. Terbukalah, berbaurlah, tutupi keraguan akan ketidakmampuan mereka dengan percaya pada kemampuan yang ada. Karena kita, mereka, setara! 

Mari Ubah Pandangan ~ Essay Terbaik Maba PKh 2018 ke-1

Mari Ubah Pandangan 
Oleh : Aulia Bening Safira (PKh 2018) 

Pelabelan. Berapa banyak pelabelan yang telah kita gunakan tanpa kita sadari? Apakah label membantu? Mungkin label dapat saja membantu namun juga bisa berbahaya. Dengan pelabelan mereka dapat menstereotipkan berdasarkan pemikiran kolektif, dan ketidakmampuan untuk memisahkan orang dari kecacatan atau perilaku yang mungkin terjadi. Ketika mereka melihat preman bertato, apakah pemberian label untuknya adalah orang yang memiliki sisi jahat? Sedang, ketika mereka melihat seseorang berpeci apakah label untuknya adalah orang yang beriman? 

Maka, apa pelabelan yang kita berikan ketika pertama kali melihat anak berkebutuhan khusus? Apakah kita memberikan label ‘anak yang menyedihkan’ ataukah ‘anak yang tidak bisa melakukan apa-apa’? Apakah ‘anak yang tak berguna’ ataukah ‘anak yang menyusahkan saja’? Bila salah satu ada yang terbersit di dalam benak kita, mari segera kita hapuskan pemikiran seperti itu, karena setiap insan yang diciptakan oleh Sang Pencipta pasti mempunyai makna di dunia ini, meskipun memliki keterbatasan sekalipun. Jangan pandang sesuatunya hanya dari pandangan luar dan melabelkannya, mengkategorikannya.

Saya adalah seorang anak berkebutuhan khusus, tunadaksa. Sewaktu saya keluar rumah dan berjalan jalan kemanapun, saya selalu mendapati pandangan iba orang-orang yang mengasihani saya. Bagi anak berkebutuhan khusus, pandangan seperti itulah yang amat tidak disukai. Kami sungguh tidak ingin terlihat dikasihani. Bagiku, kami tidak semenyedihkan itu. Namun, perlahan-lahan saya berusaha mencoba untuk tidak memedulikan pandangan, pelabelan, ataupun pengkategorian dari orang-orang. 

Sebelum saya menulis esai ini, saya bertanya kepada teman tercinta saya bagaimana opininya tentang anak berkebutuhan khusus. Teman saya berkata bahwa anak berkebutuhan khusus pun juga sama sama manusia, semua manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing - masing, belum tentu anak berkebutuhan khusus itu adalah yang paling banyak kekurangannya, dan belum tentu juga anak - anak yang normal itu selalu sempurna.

Bagi teman saya, anak berkebutuhan khusus itu ada bukan karena Sang Pencipta tidak sayang, tidak adil, melainkan Sang Pencipta ingin menjadikan anak berkebutuhan khusus itu sebagai sumber inspirasi juga motivasi. Keterbatasan fisik bukanlah penghalang.

Telah dibuktikan oleh seorang anak tunarungu yang di deritanya sejak lahir karena virus Rubella di dalam kandungan ibunya. Rafi Abdurrahman Ridwan kelahiran Jakarta, 20 Juli 2002 membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah suatu penghalang untuk berkarya dan berprestasi sebagai desainer cilik. Bahkan Tyra Banks, model terkenal dari Amerika Serikat memuji karya - karya Rafi. 

Pada usianya ke-9 tahun, Rafi sudah menggelar peragaan busana hasil rancangannya sendiri di Indonesia. Namun, Rafi tidak berpuas diri, pada tahun 2015 ia pun menggelar peragaan busananya di Amerika Serikat. 

Masih di Indonesia, Stephanie Handojo. Gadis yang sangat menginspirasi saya untuk menjadi diri sendiri dan tidak berkecil hati. Seorang atlet tunagrahita yang mengharumkan nama Indonesia hingga ke Internasional ini lahir pada 5 November 1991.

Dengan keterbatasannya, Stephanie Handojo banyak tercatat menjadi peraih medali renang. Ia tercatat sebagai peraih medali emas cabang olahraga renang di ajang Special Olympics World Summer Games tahun 2011 di Yunani, untuk nomor 50 meter gaya dada. Ajang ini sendiri digelar untuk anak-anak berkebutuhan khusus di seluruh dunia. Seperti bintang yang terus memancarkan cahayanya, Stephanie meraih kembali medali emas untuk jarak 100 meter gaya dada di ajang Special Olympics Asia-Pacific 2013 yang diselenggarakan di Australia. Ia bahkan juga berhasil menyabet medali perak untuk cabang renang untuk kategori gaya dada 50 meter dan gaya bebas 100 meter di Amerika.  

Meraih banyak medali dari cabang olahraga renang sepertinya tidak cukup bagi Stepanie, ia pun juga berhasil dalam memecahkan rekor di Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai orang yang mampu bermain piano dengan 22 lagu selama dua jam tanpa berhenti. 

Stephanie seperti terus membuktikan kepada kita bahwa keterbatasan bukan berarti tidak bisa membanggakan, ia berhasil menyisihkan belasan ribu anak di seluruh dunia untuk membawa obor di Olimpiade London 2012. Bersama 20 anak pembawa obor lainnya, Stephanie menjadi satu-satunya anak berkebutuhan khusus yang dipercaya untuk membawa obor ini.  

Sungguh, Stephanie Handojo benar-benar menginspirasi saya untuk tidak patah semangat dan tidak hanya bergeming meratapi keterbatasan. Kadang, saya merasa hanya seperti manusia lemah yang tidak bisa melakukan apa-apa. Namun, ketika saya mendengar nama Stephanie Handojo, ia benar benar mampu mengubah pemikiran saya.

Sekarang saya akan ambil satu tokoh lagi yang amat mengagumkan bagi saya. Semoga tokoh kali ini dapat mengubah pandangan orang-orang tentang anak berkebutuhan khusus bukan hanya dari penampilannya, lalu melabelkannya. Namun, mampu memandang anak berkebutuhan khusus dari kemampuannya yang hebat dan sangat menginspirasi. Memang, kali ini bukan seorang anak-anak. Ini tokoh dunia yang dikenal oleh penjuru bumi.  

Wolfgang Amandeus Mozart yang kerap dipanggil Mozart adalah seorang legenda komponis musik klasik. Karya-karyanya sangat mendunia. Mozart menciptakan lebih dari 600 karya yang sungguh menakjubkan. Akan tetapi, Mozart dikenal sebagai penyandang autis, ia seringkali menghadapi kesulitan berkomunikasi dan bersosialisasi dengan orang lain. Ia memiliki kebiasaan yang aneh yaitu kerap menggerak-gerakkan tangan juga kakinya serta membuat ekspresi wajah yang aneh saat berhadapan dengan publik. Mozart juga memiliki pendengaran yang sangat sensitif, suara yang keras menimbulkan rasa sakit secara fisik. Meskipun begitu, Mozart telah membuktikan pada dunia ini bahwa autisnya bukanlah penghambat untuk menunjukkan bakat dan kemampuannya.

Anak berkebutuhan khusus memang memiliki keterbatasan dalam fisiknya, tapi bukan berarti memiliki keterbatasan dalam menunjukkan kemampuannya untuk berkarya. Mari kita semakin ramah dengan anak berkebutuhan khusus dengan tidak memandangnya dari luar saja, melabelkannya sebagai anak yang menyedihkan, dan sebagainya. Melainkan pandang dari kemampuan yang dimilikinya. Mari kita tanamkan kepedulian kepada anak berkebutuhan khusus. Seperti kata teman saya tercinta, kita semua sama-sama manusia, maka pandanglah juga anak berkebutuhan khusus seperti manusia, bukan sesuatu yang berbeda. Mari kita berhenti menyebutnya dengan kata ‘cacat’. Mari kita bersama-sama mengurangi pelabelan atau pengkategorian dalam memandang orang. Mari kita menjadi lebih bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Maha Kuasa.  

Saya berharap semoga ini mampu megubah pandangan kita semua dalam memandang anak berkebutuhan khusus. Salam cinta, dari saya. 

Senin, 06 Agustus 2018

Motivasi Berprestasi di Pendidikan Khusus (2)

Akademik Yes, Organisasi Oke
Oleh: Erfan Kurniawan (PKh 2015)

“Jika tidak bisa menjadi yang terbaik, maka jadilah yang bermanfaat”

Peralihan siswa menjadi mahasiswa merupakan hal yang harus dimaknai dengan sebaik-baiknya. Tidak sedikit calon mahasiswa baru yang berpikiran saat kuliah nanti harus mendapatkan Indeks Prestasi (IP) yang tinggi, lulus 3,5 tahun, dan menjadi lulusan terbaik. Memang hal ini tidak salah, namun kita juga harus berpikir lebih luas bahwa menjadi mahasiswa tidak hanya seperti itu. Masih ada hal lain yang harus dilakukan oleh mahasiswa sebagai Agent Of Change. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh National Association of College and Employers (NACE), Amerika Serikat pada tahun 2002, NACE melakukan survei kepada 457 pimpinan perusahaan mengenai karakteristik unggul seorang calon pekerja. Dari survei tersebut, diperoleh 20 kepribadian unggul lulusan yang paling dicari oleh perusahaan. Ternyata Indeks Prestasi (IP) hanya berada pada peringkat ke-17. “Masihkah kita berpikir bahwa mendapatkan IP Cumlaude bisa menjamin kesuksesan kita saat lulus nanti?”

Dari 20 kepribadian unggul yang menempati peringkat 1-3 adalah kemampuan komunikasi, integritas, dan bekerja sama. Ketiga kemampuan ini dapat diperoleh melalui Organisasi dan mengikuti perlombaan Karya Tulis Ilmiah (KTI). Berorganisasi untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Sedangkan KTI untuk menjadi pribadi yang prestatif dalam skala regional, nasional, dan internasional. Saya telah menjalankan kedua hal ini, menjadi ketua BEMP PKh 2017 dan Juara II Lomba KTI Nasional 2018 di Universitas Andalas, Padang. Perlu kita pahami bahwa berorganisasi bukanlah menjadi hambatan bagi kita dalam berprestasi selama dikampus. Mari berkarya dari prodi Pendidikan Khusus untuk Indonesia!

Hidup Mahasiswa! Hidup Pendidikan Indonesia!

Motivasi Berprestasi di Pendidikan Khusus (1)

MAHASISWA : “Langkah Awal Wujudkan Asa”
Oleh: Qonita Maezein (PKh 2015)

Menjadi seorang mahasiswa adalah impian dari setiap siswa sebagai langkah awal mewujudkan cita-cita. Tak mudah rintangan-rintangan yang dihadapi untuk mencapai titik tersebut. Persaingan yang semakin berat, biaya, seleksi nilai maupun prestasi, dan sebagainya menjadi salah satu tantangan yang dihadapi oleh setiap siswa untuk bisa menyandang status mahasiswa. Ketika sudah sampai pada titik start tersebut, apa yang dilakukan?

Hal pertama yang dilakukan yaitu tentunya bersyukur. Namun ada pula yang “senang/tidak senang” karena ketika melihat hasil “penyaringan” mahasiswa baru, kita dinyatakan diterima di prodi Pendidikan Khusus UNJ. Apa ini?. Tentunya yang ada dipikiran kalian yaitu lulusan prodi tersebut akan menjadi guru SLB, tapi apakah sebatas itu saja?. Jawabannya tidak! Karena banyak hal-hal baru yang tentu tidak terpikirkan sebelumnya tentang PKh. Untuk itu, sangat penting bagi kita sebelum secara resmi menyandang status mahasiswa, sangat diwajibkan mengenal lingkungan kampus terutama prodi PKh. 

Tak hanya itu, selepas masa pengenalan lingkungan kampus berakhir, sebagai mahasiswa pun kita dituntut aktif dalam berbagai kegiatan terutama keseharian selama pembelajaran di kelas, organisasi mahasiswa, dan turut ikut serta diberbagai event kampus atau di luar kampus. Contohnya, kita bisa menjadi salah satu anggota OPMAWA seperti BEMP/LLMP, ORMAWA yang didalamnya memfasilitasi bakat/minat kita, mengikuti lomba-lomba, dan lain-lain. Oleh karena itu, mari menjadi mahasiswa PKh yang aktif dan berprestasi.

Seputar Pendidikan Khusus


  • Pentingnya Pendidikan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus 
“Special education means specifically designed instruction to meet the unique child with disability.”

–Pendidikan Khusus berarti pembelajaran yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan yang unik dari anak berkebutuhan khusus. Adapun yang mempengaruhi proses dari Pendidikan Khusus adalah aksesibitlitas pembelajaran, akuntabilitas, dukungan perilalku yang positif serta kolaborasi dari pihak-pihak yang berhubungan langsung dengan anak berkebutuhan khusus tersebut.

Pendidikan Khusus akan sesuai apabila kebutuhan siswa tidak dapat di akomodasi dalam program pendidikan umum. Artinya, Pendidikan Khusus adalah program pembelajaran yang disiapkan untuk memenuhi kebutuhan unik dari individu seperti penggunaan bahan-bahan peralatan dalam belajar, layanan khusus, dan strategi mengajar yang khusus.

Pentingnya memandang bahwa seseorang yang memiliki kebutuhan khusus memiliki hak untuk dipandang sebagai pribadi, bukan dari kekurangannya, pusatkan perhatian pada apa yang dapat mereka lakukan dari pada apa yang tidak dapat mereka lakukan. Seluruh warga neiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan, seperti yang tercantum dalam UUD 1945 Pasal31 ayat 1 dan UU No. 20 tahun 2001 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS). Terwujudnya pelayanan yang optimal bagi anak berkebutuhan khusus sehingga dapat hidup secara mandiri dan berperan serta dalam kehidupan bermasyarakat merupakan visi dari salah satu kebijakan yang dikeluarkan oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa.

  • Siapakah Guru Pendidikan Khusus?
Guru Pendidikan Khusus merupakan salah satu komponen dalam sebuah sistem pemberian layanan yang kompleks dalam membantu individu untuk mencapai potensinya secara maksimal.

Layanan Pendidikan Khusus tidak dibatasi oleh tempat khusus, melainkan di setiap lingkungan yang lebih alamiah yaitu lingkungan dimana individu tersebut menjalankan kehidupan sehari – hari sehingga akan memudahkan mereka untuk menjadi bagian dari lingkungan tersebut.

  • Mengapa Anda Memilih Pendidikan Khusus?
Sebelum membahas peluang tenaga kependidikan ABK, anda perlu memahami terlebih dahulu mengenai sistem kelembagaan pendidikan ABK. Setidaknya ada tiga sistem kelembagaan pendidikan ABK yang di kemukakan oleh Sunardi (1995), yaitu:
  1. Sistem sekolah Segregatif, yaitu bentuk sekolah khusus bagi Anak Berkebutuhan Khusus dengan satu tipe kekhususan atau campuran, yang disebut sebagai Sekolah Luar Biasa (SLB)
  2. Sistem sekolah Mainstreaming, yaitu sekolah terpadu dimana Anak Berkebutuan Khusus bersekolah di sekolah umum bersama-ama dengan anak pada umumnya.
  3. Sistem sekolah Inklusif, yaitu layanan pendidikan bagi ABK yang ideal, artinya sistem menyesuaikan kebutuhan anak.
  • Prospek Mahasiswa Pendidikan Khusus Lulusan Pendidikan Khusus bisa menjadi:
    1. Guru kelas di SLB
    2. Guru bagi anak berkebutuhan khusus di Sekolah Reguler
    3. Guru Mata Pelajaran di SLB
    4. Guru Bidang Keahlian Khusus di SLB
    5. Guru Pendidikan Khusus Non-Persekolahan
    6. Administrator Pendidikan Luar Biasa
    7. Konsultan Pendidikan Luar Biasa (Kualifikasi Pendidikan Magister)
    8. Peneliti dan Pengembang Pendidikan Luar Biasa ( kualifikasi Pendidikan Magister dan Dokter) 

Selamat Datang Mahasiswa Baru Program Studi Pendidikan Khusus UNJ 2018


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Tidak ada kata-kata yang dapat mewakili rasa kebahagiaan saat menyambut para calon penerus perjuangan dunia Pendidikan Khusus selain kalimat sederhana :

'Selamat datang mahasiswa baru Program Studi Pendidikan Khusus angkatan 2018 di kampus pelopor pergerakan intelektual'

Awal baru sudah akan dimulai, meninggalkan seragam putih abu yang menjadi identitas dan ciri khas saat masih duduk dibangku sekolah sehingga membataskan diri dalam menunjukan ideologi yang dimilikinya, menuju dunia kampus yang mempunyai suatu ciri khas setiap pemuda memiliki ideologi yang kuat dan terus kuat dan menjadi landasan setiap pemuda untuk mengenal dan menyesuaikan diri dengan lingkungan kampus.

Bukan rahasia umum identitas sebagai mahasiswa hanya dapat dinikmati oleh segelintir pemuda saja negeri ini yang sejatinya impian setiap pemuda di bangsa ini. Bukan menjadi hal yang berlebihan jika akan banyak harapan yang dibebankan ke pundak setiap mahasiswa. Mahasiswa, memiliki posisi yang sangat strategis dalam strata sosial, yaitu berada di antara masyarakat dengan pemerintah. Posisi ini yang akan menjadikan mahasiswa sangat berperan penting dalam berperan menyuarakan aspirasi rakyat kepada pemerintah, bahkan menyampaikan apa yang terjadi di tatanan pemerintahan kepada rakyat. Maka hal ini yang menyebabkan mahasiswa memiliki peran penting yang perlu kita pahami bersama.

Dimulai dari Agent of Chance, bisa didefinisikan bersama sebagai figur yang mampu membawa perubahan dimanapun mereka berada, baik perubahan yang ada di lingkungan sosial masyarakat hingga dalam lingkup bangsa. Fungsi ini bukanlah hal yang semata mata disematkan tanpa dasar kepada setiap mahasiswa, kita bisa perhatikan kembali dengan adanya peristiwa sumpah pemuda, yang menjadi salah satu bukti perjuangan pemuda yang senantiasa menjadi ganda terdepan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, lalu dengan adanya peristiwa penculikan Ir. Soekarno oleh golongan muda yang melihat peluang untuk mendeklarasikan kemerdekaan Republik Indonesia setelah melemahnya keadaan militer Jepang. Tentu harapan menjadi agen perubahan yang disematkan golongan muda akan terus digantungkan terutama kepada mahasiswa.

Adapun social control jika ditarik kembali ke masa kini, kita mahasiswa yang juga berada di Pendidikan Khusus bisa menjadi pelopor terdepan untuk mengubah pemikiran masyarakat umum tentang disabilitas dengan berbagai pencerdasan yang mampu kita lakukan sehingga kesetaraan hak untuk disabilitas dapat diraih secara utuh dan pada akhirnya kontrol sosial untuk tidak ada diskriminasi disabilitas lagi akan tetap terjaga. Fungsi mahasiswa lainnya adalah iron stock yang menggambarkan bahwa mahasiswa akan menjadi pemimpin masa depan dan mampu untuk mendobrak peradaban.

Besar sekali harapan yang disematkan untuk mahasiswa menandakan ada kepercayaan rakyat kepada kita semua, karena yang akan melanjutkan perjuangan aspirasi rakyat dan membela hak hak mereka adalah pemuda terutama mereka yang disematkan gelar mahasiswa karena keunggulan intelektualitas dan ideologi yang dimiliki.

Maka akan banyak impian yang akan kalian dapatkan jenjang pendidikan tinggi ini. Mendapat IPK yang tinggi dan lulus secepatnya memang menjadi hal yang realistis dan impian setiap mahasiswa, namun bukan berarti dengan membatasi impian juga akan membatasi peran penting sebagai mahasiswa. Menjadi mahasiswa Pendidikan Khusus bukan berarti terbatas berakhir menjadi guru yang memperbaiki keadaan siswa agar mampu dewasa bukan? lebih dari itu, akan banyak hal-hal disabilitas yang juga akan dirasakan sehingga dorongan untuk membela itu akan terus datang. Jangan lupakan harapan rakyat yang secara tersirat sudah disematkan kepada kalian yang menjadi pemimpin di masa depan, berharap akan terus datang pewaris peradaban bangsa. Sangat dinantikan semangat pemuda yang selalu dirindukan di bumi pertiwi ini, terus bergerak dan teruslah berkarya sehingga akan ada karya-karya Impresif yang dihasilkan dan memberikan kesan terbaik untuk bangsa.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Salam Impresif!

Muhammad Irwan
Ketua BEMP PKh 2018