Selasa, 14 Agustus 2018

Kehebatan yang Kurang Diperhatikan: Autism ~ Essay Terbaik Maba PKh 2018 ke-5

Kehebatan yang Kurang Diperhatikan: Autism
Oleh : Intan Maulidia Khoeriyah (PKh 2018)

Autism adalah gangguan perkembangan yang mengganggu kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi. Gangguannya dapat berupa kurangnya interaksi sosial, penghindaran kontak mata, kesulitan dalam mengembangkan bahasa, dan pengulangan tingkah laku.

Memiliki anak yang menderita autis memang tidaklah mudah. Anak penderita autis, selain tidak mampu bersosialisasi, ia juga tidak dapat mengendalikan emosinya. Kadang tertawa terbahak, kadang marah tak terkendali, bahkan dia sendiri tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri, dan memiliki gerakan yang selalu diulang-ulang. Anak yang menyandang autis memang membutuhkan perhatian ekstra. 

Namun, terlepas dari itu semua ada kelebihan anak autis yang jarang sekali orang tahu. Kelebihan pertama adalah anak autis memiliki kemampuan lebih kreatif. Penelitian ini dilakukan di Inggris dengan melakukan survei online terhadap 312 peserta. Ada 75 orang diantaranya autisme, sementara 237 lainnya bukan autis. Kemudian, parda peneliti menilai kreativitas peserta dengan meminta mereka untuk menafsirkan gambar tertentu. Dari penelitian tersebut, peserta yang didiagnosa menderita autisme umumnya memberi jawaban yang lebih baik.

Kelebihan yang kedua adalah memiliki kemampuan visual yang lebih baik. Ini mungkin dapat menjelaskan mengapa kebanyakan orang autis memiliki kemampuan yang luar biasa untuk mengingat dan menggambarkan objek secara rinci. Hasil studi dari Universitas Montreal menunjukkan bahwa pada orang autisme, area otak yang berhubungan dengan informasi visual berkembang sangat bagus. Sedangkan otak lainnya kurang aktif, yaitu otak yang berhubungan dengan pengambilan keputusan dan perencanaan.

Kelebihan yang ketiga adalah memiliki IQ atau intelektual diatas rata - rata. Akan tetapi, kelebihan ini tidak sesuai dengan perkembangan emosional dan sosial. Sehingga, banyak anak autis yang kurang dihargai. Isaac Newton adalah ilmuwan yang menemukan teori gravitasi dan mekanika klasik yang juga didiagnosa mengidap sindrom asperger. Sindrom tersebut merupakan salah satu bentuk dan bagian dari autisme. Selain Isaac Newton ada juga Albert Einstein.

Albert Einstein adalah ilmuwan terkemuka abad modern yang juga mempunyai ciri - ciri autisme. Penemu dari sebuah teori relativitas itu tidak dapat melakukan interaksi sosial dengan baik. Einstein juga kerap kali gagap ketika menghadapi publik untuk menjelaskan teori - teori cemerlangnya. Ini adalah contoh orang hebat dengan kekurangan mereka namun berhasil dan sukses dalam kehidupannya. 

Kemampuan anak autis bisa berkembang lebih optimal lewat jalur pendidikan yang tepat dan juga dukungan positif dari orang tua dan keluarganya. Pendidikan juga bisa membangkitkan rasa percaya diri anak autis. Peranan keluarga akan sangat dibutuhkan bagi kemajuan anak-anak semacam ini.

Kita sering lupa pada hakikatnya mereka sangat istimewa, yang berbeda dari kebanyakan kita. Sesungguhnya mereka anak-anak surgawi yang mengajarkan kita banyak hal. Sayangnya kita tidak berpikir panjang pada hikmah tersembunyi dibalik pelajaran sabar dan ikhlas yang mereka tanamkan di lubuk hati kita yang paling dalam. Seorang penyandang autis memberi tantangan tersendiri bagi Ibu hebat yang membesarkannya juga keluarga super yang terus mendukungnya. 

Dari pembahasan mengenai kehebatan anak autisme ini, bahwasanya autis bukanlah penyakit. Autis bukanlah cacat mental. Autis bukan gila ataupun label - label negatif lainnya. Autis adalah gangguan perkembangan. Sehingga, kata 'sembuh' rasanya kurang tepat untuk mereka. Yang lebih tepat adalah bahwa mereka dapat diberikan perhatian dan penanganan semaksimal mungkin. Sehingga nantinya mereka dapat beradaptasi dengan situasi yang juga dihadapi orang lain pada umumnya.



Dibalik Kekurangan ~ Essay Terbaik Maba PKh 2018 ke-4

Dibalik Kekurangan 
Oleh : Fahira Salsabilah (PKh 2018)

Tidak semua manusia diciptakan dengan kondisi fisik ataupun mental yang sempurna. Ada sebagian orang yang memiliki kekurangan seperti tidak dapat mendengar, tidak dapat berbicara, keterbelakangan mental, down syndrom, dan lain sebagainya.

Ada juga yang dilahirkan sempurna namun karena peristiwa tertentu ia memiliki kekurangan fisik ataupun mental. Kekurangan tersebut menyebabkan seseorang memiliki keterbatasan dalam menjalani kehidupan, baik secara pribadi maupun dalam kehidupan masyarakat.

Hal ini menyebabkan sebagian dari mereka menjadi minder atau rendah diri ketika bergaul. Apalagi jika mendapat sebutan orang cacat atau orang aneh. Seperti penderita down syndrome, kebanyakan masyarakat menyebutnya orang aneh. Sebenarnya mereka tidak aneh  hanya saja masyarakat tidak mengetahui apa itu down syndrome.

Padahal ketika mereka mengetahui apa itu down syndrome, mungkin sebutan dan penilaian sepihan mengenai keanehan penderitanya, meraka akan berfikir dua kali untuk menyebutnya aneh.

Apa itu Down Syndrome?  

Down Syndrome adalah kondisi dimana seseorang mengalami kelainan ketika ia masih  dalam kandungan. Penderita down syndrome memiliki kelebihan kromosom 21. Pada umumnya, kromosom manusia berjumlah 2 atau sepasang. Namun pada kasus Down Syndrome, jumlah kromosom ada 3, yang sering disebut trisomi 21. Sehingga jumlah kromosomnya menjadi 47, bukan 46.

Bentuk lain dari masalah kromosom ini adalah translocation dan mosaicism. Pada translocation, anak tetap mempunyai 46 kromosom, namun salah satu dari pasangan kromosom tersebut rusak. Kromosom yang rusak ini melekat atau berpindah ke kromosom lain.

Berdasarkan buku Marlene Targ Brill, yaitu Keys to Parenting A Child With Down Syndrome dan National Down Syndrome Society, pada mosaicism, beberapa sel mempunyai 46 kromosom dan lainnya 47. Translocation dialami oleh kira-kira 4% penyandang Down Syndrome dan mosaicism sekitar 1% penyandang Down Syndrome.

Hidup Bersama Penyandang Down Syndrome 

Down syndrome merupakan gangguan kromosom yang paling umum terjadi. Keadaan ini bukanlah akhir dari kehidupan anak dan orang tuanya. Dengan kemajuan teknologi dan informasi, penyandang down syndrome dapat hidup dengan baik dan berkembang optimal.  

Saat ini bagi penderita down syndrome pendidikan formal dapat dijalankan. Mungkin mereka memang tidak bisa mengikuti pendidikan layaknya murid di sekolah umum. Namun mereka tetap dapat belajar sesuai dengan potensinya. Dengan penanganan yang baik dan konsisten, para penyandang down syndrome dapat berkembang optimal dan hidup dengan baik. Ditambah dengan sifat bawaannya yang biasanya ramah dan senang bergaul, mereka dapat menyesuaikan diri dengan cukup baik dengan lingkungannya. Tak sedikit pula penderita down syndrome yang sukses dan berprestasi, terutama di bidang olahraga.

Siapakah anak down syndrome yang berprestasi di bidang olahraga? 

Seorang pemuda dari Indonesia, Michael Rosihan Yacub menunjukan bahwa down syndrome bukanlah suatu penghalang untuk meraih sebuah prestasi. Meskipun dengan IQ 35 Michael mampu mencatatkan namannya di MURI sebagai satu-satunya pemain golf paling muda dengan down syndrome dan mampu bertanding dengan pemain golf normal, padahal golf merupakan olahraga yang membutuhkan konsentrasi yang sangat tinggi. Tidak hanya itu  Michael juga menorehkan beragam prestasi. Di antaranya, meraih medali dari cabang renang dan atletik. Michael juga aktif belajar di Center of Hope ISDI dan mengikuti serangkaian program di dalamnya. Mulai dari belajar memasak, bermain musik hingga mengikuti les drama. 

Saat ini michael tengah mengikuti kelas tata boga di Center of Hope. Di sana ia belajar mengembangkan kreativitasnya dengan membuat dekorasi kue dari icing sugar. Masih banyak lagi penderita down syndrome yang mampu meraih prestasi. 

Masih kita menilai aneh penderita down syndrome

Tidak seharusnya kita menilai aneh penderita down syndrome, meskipun secara fisik penderita down syndrome berbeda tetapi penderita down syndrome juga memiliki kampuan atau keahlian yang begitu luar biasa dibanding dengan manusia normal. Hal ini sudah terbukti dengan prestasi yang diraih oleh Michael. Perestasi yang dapat membanggakan bangsa Indonesia. 

Untuk para masyarakat jangan lagi memandang sebelah mata pendertita down syndrome dan jangan menganggap penderita down syndrome tidak dapat melakukan apapun. Sejatinya kita tidak boleh melihat atau menilai seseorang hanya dari penampilan fisiknya tetapi lihatlah dari keseungguhannya.

Mereka yang Bersyukur ~ Essay Terbaik Maba PKh 2018 ke-3

Mereka yang Bersyukur 
Oleh : Hani Delismietin (PKh 2018)

Pernahkah terfikir oleh kalian bahwa kita sebagai manusia yang diciptakan oleh tuhan dengan sebaik-baiknya, masih saja merasa kekurangan lalu mengeluh? Manusia pasti memiliki sifat tidak pernah puas dan tidak mudah merasa cukup, dan itu sangatlah manusiawi. Disekitar kita pun ada beberapa orang yang diberi pengecualian oleh tuhan, mereka diciptakan dengan baik tetapi diberi keistimewaan oleh tuhan. Manusia berkebutuhan khusus, diciptakan oleh tuhan untuk membuat kita manusia yang biasa saja untuk mengurangi sifat tidak pernah puas dan selalu merasa bersyukur. 

Mengapa kita tidak memiliki keistimewaan seperti mereka yang berkebutuhan khusus? Karena tuhan tahu jika kita terpilih menjadi mereka yang istimewa, kita tidak akan mampu menerima diri kita sendiri. Maka dijadikanlah kita manusia manusia yang sudah diciptakan sebaik - baiknya dan tanpa keistimewaan oleh tuhan dan berada disekitar mereka yang istimewa agar selalu ingat kepadanya dan selalu bersyukur. 

Mereka yang berkebutuhan khusus selalu diberikan kelebihan oleh tuhan, dan kebanyakan dari mereka pun jarang sekali mengeluh dengan keadaan mereka. Mereka mudah sekali dibuat bahagia hanya dengan hal-hal kecil seperti sapaan sayang, pujian setelah mengerjakan pekerjaan rumah, atau cemilan yang kita berikan kepada mereka. 

Hanya dengan senyuman saja, kita sudah bisa membuat penyandang tuna rungu bahagia. Dengan senyuman kita sudah membantu mereka mengurangi rasa curiga dan merasa tidak dianggap. Lalu bagaimana dengan manusia biasa? Apa yang dapat membuat manusia biasa merasa bahagia? Uang? Rumah? Mobil? Terlalu banyak syarat untuk manusia biasa merasa bahagia.

Pernahkah mendengar nyanyian mereka penyandang tuna netra? Tuhan menganugerahkan tiap - tiap tuna netra suara yang bagus, karena tuhan sudah menutup mata mereka. Lalu apakah dengan suara mereka yang indah, mereka menjadi manusia yang sombong dan menuntut ketenaran? Jarang sekali tuna netra yang dianggap dan dibantu untuk memasarkan suara indahnya. Lalu apa yang terjadi jika yang bersuara bagus adalah manusia biasa? 

Belakangan ini banyak sekali kasus mengenai anak yang berani melawan orang tuanya karena apa yang dia inginkan tidak diberikan. Padahal dengan mereka memiliki orang tua yang mau mengakui mereka sebagai seorang anak saja adalah anugerah terindah yang mereka sudah dapatkan. Karena percaya atau tidak, tidak banyak anak berkebutuhan khusus yang diakui oleh orang tuanya. Tidak sedikit dari mereka yang dititipkan begitu saja kepada yayasan atau sekolah khusus karena orang tuanya tidak tau atau bahkan tidak mau mengurus mereka. Meskipun tidak sedikit pula orang tua yang masih mau bertanggung jawab dan masih mau mengurus.

Dengan hadirnya mereka yang istimewa di antara kita yang biasa saja, seharusnya kita menjadi merasa lebih bersyukur. Karena kesulitan yang kita alami, tidak sebanding dengan kesulitan yang mereka tempuh. Sejatinya, seburuk apapun keadaan kita sekarang, karena kita adalah manusia yang diberikan akal sehat seharusnya kita mampu untuk berusaha menjadi yang lebih baik, bukan mengeluhkan apa-apa yang belum ada di kehidupan kita. Dan seharusnya perasaan selalu merasa kekurangan bisa kita hilangkan, karena dengan kita dilahirkan kedunia ini, dijadikan sebaik-baiknya oleh tuhan, diakui dan mendapatkan kasih sayang dari orang tua, memiliki mata yang dapat melihat, suara yang dapat terdengar, tangan dan kaki yang masih bisa membantu sesame seharusnya kita tidak merasa kurang sama sekali. 

Jika mereka yang istimewa dan berkebutuhan khusus mampu menerima diri mereka dan selalu merasa cukup, mengapa kita yang memiliki segala yang mereka tidak punya masih selalu merasa kurang?  


Setara dari Perspektif Mereka ~ Essay Terbaik Maba PKh ke-2

Setara dari Perspektif Mereka 
Oleh : Ichlas Nurpaidah (PKh 2018)

Banyak orang memperjuangkan kesetaraan kaumnya, banyak kaum yang memperjuangkan haknya, lantas mereka mendapatkannya. Mereka mendapat pemenuhan hak yang mereka perjuangkan pada akhirnya. Tapi tulisan ini dibawa dari mereka, teman-teman difabel (different ability), yang jauh dari orang-orang yang mengamini kesetaraan. Kesetaraan yang mereka harapkan bukanlah persamaan, lantas apa yang mereka inginkan dari diksi setara, sedang kemampuan ‘kita’ dan ‘mereka’ jelas berbeda? 

Setiap dari kita pastilah pernah berada pada tempat yang sama dengan mereka para penyandang difabel. Jika satu di antara pembaca berkata tidak, maka benarkah? Mereka yang kebetulan tidak ada pada suatu waktu di keseharian kita, atau jangan-jangan kita yang tidak menganngap keberadaan mereka? Kebanyakan dari kita berspekulasi bahwa para difabel selalu memerlukan pertolongan, bantuan kita, dan perlu dikasihani. Dampaknya nanti, kita cenderung menghindari para difabel dengan kekhawatiran nantinya mendapat celaan, atau ikut dibuat kesusahan. Hal ini jelas keliru, karena sebenarnya mereka sama seperti kita. 

Contoh sederhananya saja seorang tunanetra mampu berjalan seperti kita, mungkin tidak dengan mata, tapi dengan kemampuan mengenali ruang dengan bantuan tongkat mereka. Seorang tunanetra mampu membaca, mungkin bukan dengan mata, tapi dengan jari - jari mereka. Seorang tunawicara atau tunarungu juga mampu berbahasa, mungkin bukan melalui suara tapi melalui gerak tubuh mereka. Atau seorang tunadaksa misalnya, kita pikir mereka tidak bisa berolahraga? mereka berolahraga seperti kita, tapi mereka memiliki kebutuhan khusus dibandingkan kita, mereka berolahraga beserta alat bantu geraknya, misalnya saja sebuah roda. Adakah ketidakmampuan (disability; nantinya diserap ke dalam bahasa indonesia menjadi disabilitas) di antara perbandingan tadi? Ternyata tidak, kita sama - sama melakukannya, namun dengan cara yang berbeda. Sehingga mereda dituntut untuk memiliki kemampuan yang berbeda pula (different ability [difabel]). Bedanya, kita bisa dengan mudah melakukan berbagai aktifitas, tapi mereka membutuhkan kemampuan khusus, fasilitas dan cara khusus untuk melakukan aktivitasnya. Cara yang berbeda inilah sumber dari hilangnya hak dan kesetaraan antara ‘kita’ dan ‘mereka’. Sumber dari perbedaan dan diskriminasi. 

Kesetaraan seolah enggan diperjuangkan untuk mereka para difabel, karena mereka minoritas, dianggap tidak mandiri, senantiasa membutuhkan bantuan orang lain, dan memerlukan usaha ekstra untuk menjadikan kemampuan kita dengan mereka sama. Bukankah sudah menjadi keharusan bagi kita, yang diberi kemudahan dalam menjalankan kehidupan, untuk membantu dan memfasilitasi mereka yang harus berusaha lebih untuk menjalani kehidupannya? Padahal hanya itu definisi setara bagi mereka, dengan hanya diberikan pelayanan dan fasilitas terbaik dari lingkungannya. Seperti yang dikatakan Febrian Dwi Putra mahasiswa PLB 2017, Universitas Negeri Jakarta, dalam kesempatan wawancara.

“Kaka pengen anak-anak difabel disamakan, dalam artian pelayanan untuk kami 
yang disabilitas ada, jadi setara bagi Kaka pribadi, berikan pelayanan, dan fasilitas 
yang terbaik buat anak-anak disabilitas, karena itu yang kami perlukan.” 

Bukankah di Indoneisa saat ini situasi terbalik, dimana kita yang bisa menjalani kehidupan dengan normal terus difasilitasi, pemenuhan dan perbaikan pelayanan publik terus diperbaiki untuk mencapai kemudahan yang lebih hingga memperoleh cara hidup yang lebih praktis lagi. Berkebalikan dengan fasilitas untuk mereka para difabel jangankan pengembangan fasilitas, hingga saat ini di Indonesia fasilitas untuk difabel bahkan belum bisa dikatakan layak. Misalnya saja di Kabupaten Trenggalek beberapa titik guiding block menabrak pohon dan tiang listrik.

“Di indonesia ini,  masih banyak orang normal lebih difasilitasi, padahal mereka 
tidak punya kekurangan apapun, sementara kami disabilitas, yang banyak sekali 
kekurangan, tetapi tidak diperhatikan oleh lingkungan sekitar, apalagi oleh orang 
orang yang masih awam kepada temen-temen disabilitas.” tambahnya.  

Lantas apa yang bisa kita kontribusikan untuk mereka? Tidak perlu menjadi bagian dari pemerintah dulu untuk ikut membenahi, tak perlu menjadi konsultan disabilitas untuk peduli, tak perlu menjadi mahasiswa pendidikan khusus untuk memfasilitasi, juga tak perlu menjadi bagian dari mereka dulu kan untuk mengerti? Fasilitasilah mereka dengan memahami, bahwa perbedaan ‘kita’ dan ‘mereka’ bukanlah sebuah kelemahan. Terbukalah, berbaurlah, tutupi keraguan akan ketidakmampuan mereka dengan percaya pada kemampuan yang ada. Karena kita, mereka, setara! 

Mari Ubah Pandangan ~ Essay Terbaik Maba PKh 2018 ke-1

Mari Ubah Pandangan 
Oleh : Aulia Bening Safira (PKh 2018) 

Pelabelan. Berapa banyak pelabelan yang telah kita gunakan tanpa kita sadari? Apakah label membantu? Mungkin label dapat saja membantu namun juga bisa berbahaya. Dengan pelabelan mereka dapat menstereotipkan berdasarkan pemikiran kolektif, dan ketidakmampuan untuk memisahkan orang dari kecacatan atau perilaku yang mungkin terjadi. Ketika mereka melihat preman bertato, apakah pemberian label untuknya adalah orang yang memiliki sisi jahat? Sedang, ketika mereka melihat seseorang berpeci apakah label untuknya adalah orang yang beriman? 

Maka, apa pelabelan yang kita berikan ketika pertama kali melihat anak berkebutuhan khusus? Apakah kita memberikan label ‘anak yang menyedihkan’ ataukah ‘anak yang tidak bisa melakukan apa-apa’? Apakah ‘anak yang tak berguna’ ataukah ‘anak yang menyusahkan saja’? Bila salah satu ada yang terbersit di dalam benak kita, mari segera kita hapuskan pemikiran seperti itu, karena setiap insan yang diciptakan oleh Sang Pencipta pasti mempunyai makna di dunia ini, meskipun memliki keterbatasan sekalipun. Jangan pandang sesuatunya hanya dari pandangan luar dan melabelkannya, mengkategorikannya.

Saya adalah seorang anak berkebutuhan khusus, tunadaksa. Sewaktu saya keluar rumah dan berjalan jalan kemanapun, saya selalu mendapati pandangan iba orang-orang yang mengasihani saya. Bagi anak berkebutuhan khusus, pandangan seperti itulah yang amat tidak disukai. Kami sungguh tidak ingin terlihat dikasihani. Bagiku, kami tidak semenyedihkan itu. Namun, perlahan-lahan saya berusaha mencoba untuk tidak memedulikan pandangan, pelabelan, ataupun pengkategorian dari orang-orang. 

Sebelum saya menulis esai ini, saya bertanya kepada teman tercinta saya bagaimana opininya tentang anak berkebutuhan khusus. Teman saya berkata bahwa anak berkebutuhan khusus pun juga sama sama manusia, semua manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing - masing, belum tentu anak berkebutuhan khusus itu adalah yang paling banyak kekurangannya, dan belum tentu juga anak - anak yang normal itu selalu sempurna.

Bagi teman saya, anak berkebutuhan khusus itu ada bukan karena Sang Pencipta tidak sayang, tidak adil, melainkan Sang Pencipta ingin menjadikan anak berkebutuhan khusus itu sebagai sumber inspirasi juga motivasi. Keterbatasan fisik bukanlah penghalang.

Telah dibuktikan oleh seorang anak tunarungu yang di deritanya sejak lahir karena virus Rubella di dalam kandungan ibunya. Rafi Abdurrahman Ridwan kelahiran Jakarta, 20 Juli 2002 membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah suatu penghalang untuk berkarya dan berprestasi sebagai desainer cilik. Bahkan Tyra Banks, model terkenal dari Amerika Serikat memuji karya - karya Rafi. 

Pada usianya ke-9 tahun, Rafi sudah menggelar peragaan busana hasil rancangannya sendiri di Indonesia. Namun, Rafi tidak berpuas diri, pada tahun 2015 ia pun menggelar peragaan busananya di Amerika Serikat. 

Masih di Indonesia, Stephanie Handojo. Gadis yang sangat menginspirasi saya untuk menjadi diri sendiri dan tidak berkecil hati. Seorang atlet tunagrahita yang mengharumkan nama Indonesia hingga ke Internasional ini lahir pada 5 November 1991.

Dengan keterbatasannya, Stephanie Handojo banyak tercatat menjadi peraih medali renang. Ia tercatat sebagai peraih medali emas cabang olahraga renang di ajang Special Olympics World Summer Games tahun 2011 di Yunani, untuk nomor 50 meter gaya dada. Ajang ini sendiri digelar untuk anak-anak berkebutuhan khusus di seluruh dunia. Seperti bintang yang terus memancarkan cahayanya, Stephanie meraih kembali medali emas untuk jarak 100 meter gaya dada di ajang Special Olympics Asia-Pacific 2013 yang diselenggarakan di Australia. Ia bahkan juga berhasil menyabet medali perak untuk cabang renang untuk kategori gaya dada 50 meter dan gaya bebas 100 meter di Amerika.  

Meraih banyak medali dari cabang olahraga renang sepertinya tidak cukup bagi Stepanie, ia pun juga berhasil dalam memecahkan rekor di Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai orang yang mampu bermain piano dengan 22 lagu selama dua jam tanpa berhenti. 

Stephanie seperti terus membuktikan kepada kita bahwa keterbatasan bukan berarti tidak bisa membanggakan, ia berhasil menyisihkan belasan ribu anak di seluruh dunia untuk membawa obor di Olimpiade London 2012. Bersama 20 anak pembawa obor lainnya, Stephanie menjadi satu-satunya anak berkebutuhan khusus yang dipercaya untuk membawa obor ini.  

Sungguh, Stephanie Handojo benar-benar menginspirasi saya untuk tidak patah semangat dan tidak hanya bergeming meratapi keterbatasan. Kadang, saya merasa hanya seperti manusia lemah yang tidak bisa melakukan apa-apa. Namun, ketika saya mendengar nama Stephanie Handojo, ia benar benar mampu mengubah pemikiran saya.

Sekarang saya akan ambil satu tokoh lagi yang amat mengagumkan bagi saya. Semoga tokoh kali ini dapat mengubah pandangan orang-orang tentang anak berkebutuhan khusus bukan hanya dari penampilannya, lalu melabelkannya. Namun, mampu memandang anak berkebutuhan khusus dari kemampuannya yang hebat dan sangat menginspirasi. Memang, kali ini bukan seorang anak-anak. Ini tokoh dunia yang dikenal oleh penjuru bumi.  

Wolfgang Amandeus Mozart yang kerap dipanggil Mozart adalah seorang legenda komponis musik klasik. Karya-karyanya sangat mendunia. Mozart menciptakan lebih dari 600 karya yang sungguh menakjubkan. Akan tetapi, Mozart dikenal sebagai penyandang autis, ia seringkali menghadapi kesulitan berkomunikasi dan bersosialisasi dengan orang lain. Ia memiliki kebiasaan yang aneh yaitu kerap menggerak-gerakkan tangan juga kakinya serta membuat ekspresi wajah yang aneh saat berhadapan dengan publik. Mozart juga memiliki pendengaran yang sangat sensitif, suara yang keras menimbulkan rasa sakit secara fisik. Meskipun begitu, Mozart telah membuktikan pada dunia ini bahwa autisnya bukanlah penghambat untuk menunjukkan bakat dan kemampuannya.

Anak berkebutuhan khusus memang memiliki keterbatasan dalam fisiknya, tapi bukan berarti memiliki keterbatasan dalam menunjukkan kemampuannya untuk berkarya. Mari kita semakin ramah dengan anak berkebutuhan khusus dengan tidak memandangnya dari luar saja, melabelkannya sebagai anak yang menyedihkan, dan sebagainya. Melainkan pandang dari kemampuan yang dimilikinya. Mari kita tanamkan kepedulian kepada anak berkebutuhan khusus. Seperti kata teman saya tercinta, kita semua sama-sama manusia, maka pandanglah juga anak berkebutuhan khusus seperti manusia, bukan sesuatu yang berbeda. Mari kita berhenti menyebutnya dengan kata ‘cacat’. Mari kita bersama-sama mengurangi pelabelan atau pengkategorian dalam memandang orang. Mari kita menjadi lebih bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Maha Kuasa.  

Saya berharap semoga ini mampu megubah pandangan kita semua dalam memandang anak berkebutuhan khusus. Salam cinta, dari saya. 

Senin, 06 Agustus 2018

Motivasi Berprestasi di Pendidikan Khusus (2)

Akademik Yes, Organisasi Oke
Oleh: Erfan Kurniawan (PKh 2015)

“Jika tidak bisa menjadi yang terbaik, maka jadilah yang bermanfaat”

Peralihan siswa menjadi mahasiswa merupakan hal yang harus dimaknai dengan sebaik-baiknya. Tidak sedikit calon mahasiswa baru yang berpikiran saat kuliah nanti harus mendapatkan Indeks Prestasi (IP) yang tinggi, lulus 3,5 tahun, dan menjadi lulusan terbaik. Memang hal ini tidak salah, namun kita juga harus berpikir lebih luas bahwa menjadi mahasiswa tidak hanya seperti itu. Masih ada hal lain yang harus dilakukan oleh mahasiswa sebagai Agent Of Change. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh National Association of College and Employers (NACE), Amerika Serikat pada tahun 2002, NACE melakukan survei kepada 457 pimpinan perusahaan mengenai karakteristik unggul seorang calon pekerja. Dari survei tersebut, diperoleh 20 kepribadian unggul lulusan yang paling dicari oleh perusahaan. Ternyata Indeks Prestasi (IP) hanya berada pada peringkat ke-17. “Masihkah kita berpikir bahwa mendapatkan IP Cumlaude bisa menjamin kesuksesan kita saat lulus nanti?”

Dari 20 kepribadian unggul yang menempati peringkat 1-3 adalah kemampuan komunikasi, integritas, dan bekerja sama. Ketiga kemampuan ini dapat diperoleh melalui Organisasi dan mengikuti perlombaan Karya Tulis Ilmiah (KTI). Berorganisasi untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Sedangkan KTI untuk menjadi pribadi yang prestatif dalam skala regional, nasional, dan internasional. Saya telah menjalankan kedua hal ini, menjadi ketua BEMP PKh 2017 dan Juara II Lomba KTI Nasional 2018 di Universitas Andalas, Padang. Perlu kita pahami bahwa berorganisasi bukanlah menjadi hambatan bagi kita dalam berprestasi selama dikampus. Mari berkarya dari prodi Pendidikan Khusus untuk Indonesia!

Hidup Mahasiswa! Hidup Pendidikan Indonesia!

Motivasi Berprestasi di Pendidikan Khusus (1)

MAHASISWA : “Langkah Awal Wujudkan Asa”
Oleh: Qonita Maezein (PKh 2015)

Menjadi seorang mahasiswa adalah impian dari setiap siswa sebagai langkah awal mewujudkan cita-cita. Tak mudah rintangan-rintangan yang dihadapi untuk mencapai titik tersebut. Persaingan yang semakin berat, biaya, seleksi nilai maupun prestasi, dan sebagainya menjadi salah satu tantangan yang dihadapi oleh setiap siswa untuk bisa menyandang status mahasiswa. Ketika sudah sampai pada titik start tersebut, apa yang dilakukan?

Hal pertama yang dilakukan yaitu tentunya bersyukur. Namun ada pula yang “senang/tidak senang” karena ketika melihat hasil “penyaringan” mahasiswa baru, kita dinyatakan diterima di prodi Pendidikan Khusus UNJ. Apa ini?. Tentunya yang ada dipikiran kalian yaitu lulusan prodi tersebut akan menjadi guru SLB, tapi apakah sebatas itu saja?. Jawabannya tidak! Karena banyak hal-hal baru yang tentu tidak terpikirkan sebelumnya tentang PKh. Untuk itu, sangat penting bagi kita sebelum secara resmi menyandang status mahasiswa, sangat diwajibkan mengenal lingkungan kampus terutama prodi PKh. 

Tak hanya itu, selepas masa pengenalan lingkungan kampus berakhir, sebagai mahasiswa pun kita dituntut aktif dalam berbagai kegiatan terutama keseharian selama pembelajaran di kelas, organisasi mahasiswa, dan turut ikut serta diberbagai event kampus atau di luar kampus. Contohnya, kita bisa menjadi salah satu anggota OPMAWA seperti BEMP/LLMP, ORMAWA yang didalamnya memfasilitasi bakat/minat kita, mengikuti lomba-lomba, dan lain-lain. Oleh karena itu, mari menjadi mahasiswa PKh yang aktif dan berprestasi.